Permainan kategori RPG (Role Playing Game) merupakan kategori yang cukup digandrungi saat ini. RPG adalah jenis permainan yang dapat dimainkan jumlah pemain yang banyak (gamers). Karakter yang dimainkan lalu akan berubah dan menjadi bertambah kuat apabila mampu memenangkan suatu rintangan dan melaju ke tingkat selanjutnya.
RF (Rising Force), Ragnarok, DOTA, Warcraft, Counter Strike, Gunbound, Seal, AyoDance dan beberapa Jenis Permainan lainnya yang termasuk jenis game online yang mampu menyita perhatian anak sekolah dasar sampai kelompok eksekutif muda untuk merogoh koceknya demi kepuasan sesaat.
Counter Strike, permainan yang hampir sepenuhnya merupakan aksi tembak-menembak ini disebut-sebut sebagai pelopor game online. Permainan ini diluncurkan pertama kali pada tahun 1999. Permainan komputer online ini menjadi trend dan berkembang di seluruh dunia pada tahun 2000.
Pada tahun-tahun selanjutnya bermunculan game online seperti Ragnarok, Seal, Warcraft, xian, Gunbound dan lain-lain. Tahun lalu, RF menjadi permainan favorit sampai saat ini. Kemudian muncullah beberapa game baru seperti; Ayodance sebuah Game Online Game batle Dance dimana anda dan teman-teman di seluruh Indonesia bisa bertanding Dance dengan diiringi lagu-lagu terbaru yang kebanyakan lagu-lagu tersebut adalah lagu Impor dari Korea dan China, hanya 20 % saja lagu dari Indonesia.
Salah satu pelajar yang kami wawancarai di warnet KADEWE Jagakarsa mengatakan "Saya bermain karena tertarik dengan karakter di game tersebut. Kalau menang terus, karakternya akan semakin berkembang, lalu mempunyai kekuatan tersembunyi dan bisa mengalahkan musuh lainnya," jelasnya ketika sedang bermain game tersebut.
Ia menghabiskan waktu bermain game online selama 50 jam/pekan. Ia berpendapat bahwa game online ini bisa membantu memutar otak untuk mengalahkan lawan dengan berbagai taktik atau strategi.
Berdasarkan survei Silicon.com, online gaming ternyata lebih populer dari online shopping. Dari 3.600 peserta survei, 43% pengguna internet menggunakan internet untuk online gaming sedangkan pengguna internet yang berbelanja lewat web hanya 12%.
Survei yang dilakukan pada anak-anak berusia 17-20 tahun di Indonesia menunjukkan bahwa 37% dari mereka memanfaatkan internet untuk bermain online game.
Seto Mulyadi, psikolog anak yang biasa dipanggil Kak Seto, mengatakan bahwa permainan game online ini mempunyai nilai sosial yang cukup tinggi. "Permainan ini mampu membuat pemainnya (gamer) untuk berkomunikasi dengan pemain lainnya untuk memecahkan suatu rintangan atau masalah," jelas pengisi suara serial TV anak-anak Si Komo itu.
Ia juga menambahkan bahwa sejumlah komunitas gamers dan beberapa kompetisi game online yang ada di Indonesia membuktikan bahwa seseorang bisa mempunyai banyak teman dari permainan dunia cyber ini.
Seperti halnya Komunitas Ayodance yang mempunyai basecamp di Jagakarsa yang menamakan komunitasnya “ Fairy”. Bahkan komunitas ini telah mempunyai web site sendiri untuk menjaring komunitas Gamers nya di seluruh Indonesia
Adrian salah satu personil Fairy yang juga merupakan Owner dari komunitas ini mengatakan bahwa kini Jumlah Anggota Fairy yang aktif dalam komunitas Online ini telah berjumlah 50 orang lebih, jumlah yang cukup besar untuk sebuah komunitas Gamers Online, awalnya Komunitas ini dibuat untuk mempererat tali persaudaraan diantara komunitas tersebut.
Salah seorang penjaga warnet game online di daerah Jagakarsa mengatakan bahwa pada musim liburan lalu rata-rata yang datang bermain meningkat hampir 50% dibandingkan hari biasa.
"Hari biasa nggak sampai 70 orang sehari. Tapi kalau hari libur bisa mencapai 100 orang/hari," jelas pegawai warnet.
Warnet Kadewe yang menyediakan 25 buah komputer untuk game online dengan memasang tarif paket, yaitu Rp 10.000/10 jam.
Sementara itu, ada kabar dari salah satu tabloid bahwa penderita autisme sebaiknya menjalani terapi dengan bermain game online. Autisme, yang bermakna ganguan perkembangan neurologis yang berat sehingga ia tidak mau berkomunikasi atau bersosialisasi dengan sekitar, disebutkan mampu untuk disembuhkan dengan bermain game online yang sangat mengandalkan komunikasi dan interaksi. Akan tetapi, untuk ini belum ada hasil penelitian yang membenarkan kabar tersebut.
"Memang betul game online dapat juga sebagai terapi bagi penderita autis. Tetapi memang harus melalui penelitian lebih lanjut. Tergantung konteksnya karena ada penderita autis ringan dan autis parah. Kalau autis parah tidak mungkin," jelas kak Seto.
Game online memang cukup menghibur semua lapisan masayarakat. Akan tetapi kecanduan akan permainan ini juga mampu menjadi bumerang bagi para gamers, khususnya gamers yang duduk di bangku sekolah. Pada akhirnya tinggal bagaimana orang tua mampu memonitor anak-anaknya dalam berekreasi
ALAN-KADEWE
Tidak ada komentar:
Posting Komentar